Kinerja Kontraktor Proyek Pedestarian Gowa Dipertanyakan, Mutu Dan Kualitasnya
GOWA (KARYA INDONESIA) Proyek pedestarian dalam wilayah Kab Gowa kembali di sorot. Ketua LSM MAPANKAN Gowa (Masyarakat Pemantau Anggaran dan Kinerja Aparatur Negara) Fajar Fajhri, kembali memaparkan progres hasil pengawasan dan pemantauannya pada Pekerjaan proyek tersebut.
Sebagai mana pemberitaan lalu, bahwa proyek ini ditengarai jauh dari kualitas yang diharapkan masyarakat. Sejumlah elemen masyarakat memang menyoal kinerja kontraktornya yang jauh dari harapan.
Mereka tidak memperhatikan kualitas dan mutu kontruksi pekerjaannya, bebernya. Jumat, (30/8) Siang di Mesjid Agung Syekh Yusuf, Mesjid Raya Sungguminasa.
Sebelumnya lembaga ini memaparkan hasil pengawasan dan pemantauannya terhadap proyek ini terkait kurangnya penyerapan anggaran dan lambatnya pekerjaan akibat kurangnya menggunakan tenaga tukang.
Pekerjaan ini tidak boleh asal jadi, kontruksi pembesiannya terutama tulang beton sangat diragukan. Menurutnya yang terpasang sekarang tidak sesuai kontruksi pada tekhnik kontruksi pembesiannya.
Seperti pada titik depan kantor Bappeda Gowa dimana antara tulangan balok ke tulangan melintang tidak saling mengikat sepertinya dipasang begitu saja tanpa dasar kontruksi besi tulanh,"papar Fajar
Menurutnya lagi, kontruksi tulangan tersebut tidak dapat menahan cor beton. Akhirnya bisa mengakibatkan beton amblas karena tulangan besi tidak saling mengikat. Apalagi jarak behel yang tidak teratur atau tidak tetap ukuran jaraknya.
Kami harapkan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum, yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja.
"Pengawas dan PPK harus perhatikan kontruksi pekerjaannya agar sesuai dengan harapan kita semua dan hasilnya awet di manfaatkan masyarakat Gowa,"harapnya.
Ia melanjutkan, pada penggunaan kualitas atau mutu beton untuk struktur juga harus diperhatikan, pada kualitas beton yang di gunakan FC 19,3 MPA sesuai nota pesanan yang kami temukan sepertinya tidak dilakukan pengambilan uji silinder atau uji slime sebelumnya untuk menentukan mutu beton tersebut. Jangan keluar dari Mold (acuan untuk pelaksanaan pengecoran beton)
Pada pengambilan uji slime yang kami pantau dimana pengambilan sampel kubus itu berada di posisi beton K225. Sementara pesanan keduanya itu memakai FC 19,3. Kalau pengambilan pengecoran menggunakan FC 19,3 harus dilakukan uji silinder atau uji slime setiap dump truck molen membawa campuran beton ke In Situ sebelum tumpah.
Tambahan selanjutnya, Pengawas dan PPK seharusnya memperhatikan pemasangan Poer. Ada beberapa titik kami pantau tidak dilakukan penggalian poer langsung dipasang begitu saja, akibatnya tidak akan kuat
Semoga pemaparan hasil pemantauan dan pengawasan kami ini bermanfaat dan diperhatikan agar tidak menjadi temuan dan masalah kedepannya dan demi kepentingan bersama untuk masyarakat kabupaten Gowa saat ini dan kedepannya, pungkas Fajar (K.Sijaya)
0 komentar :
Posting Komentar